PROGRAM PESUGIHAN UANG GAIB TANPA RESIKO

PROGRAM PESUGIHAN UANG GAIB TANPA RESIKO


Aku sebenarnya cukup tegar mengahadapi kehidupan yang serba pas-pasan.  Sebagai manusia biasa aku memang mengharap hidup lebih baik dalam segi ekonomi.  Namun aku masih bisa berpikiran sehat, dengan tidak melakukan cara-cara konyol dan sesat.  Aku lebih memilih berusaha tak kenal lelah dengan memanfaatkan kemampuan diriku.  Jika akhirnya aku menjadi pelaku pesugihan, itu lebih dikarenakan isteriku yang tak siap mental menghadapi keadaan tersebut.  Tapi sesungguhnya ia adalah wanita berhati baik.  Hanya saja ia yang berasal dari keluarga bergelimang harta, tak biasa untuk hidup sangat sederhana.  Apalagi, ia sendiri yang dulu ngotot memilih aku menjadi suaminya, meski ditentang mati-matian oleh orang tua dan saudara-saudaranya.

Semakin hari kondisi mentalnya kian parah.  Meski tak pernah berani marah padaku, setiap hari ia mengeluhkan kondisi hidup kami.  Aku sendiri sebenarnya cukup bisa memaklumi sikapnya.  Dalam hati kecilku aku juga ingin bisa membahagiakannya dari sisi materi.  Tapi apa lacur, kondisi mental isteriku benar-benar parah.  Hingga pada suatu malam, entah dapat ide dari siapa atau siapa yang mempengaruhi isteriku tiba-tiba mencetuskan usulan gila yang tidak pernah aku duga sebelumnya.  Dengan sangat hati-hati ia memintaku untuk mencari kekayaan lewat jalur pesugihan.  Yang lebih membuatku terheran-heran manakala ia menunjukkan padaku tempat untuk mendapatkan tuyul.  Ia seakan telah tahu betul lokasi tersebut.  

Yang disebutkannya waktu itu, yakni disalah satu gunung di Kabupaten Gresik.  Memang tempat tinggalku dipinggiran Surabaya Barat, tepatnya di Kecamatan Benowo, tapi dari mana ia tahu tentang lokasi itu?  Padahal seingatku ia tak pernah thu daerah sana dan akupun tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke sana.  Ketika aku korek tentang hal itu, ia tak mau berterus terang.  Ia hanya mengatakan pokoknya tahu dari seseorang.  Dan yang membuatku semakin salah sikap, ia terus merengek agar aku berseia memenuhi permintaanya itu.  Resiko yang kujelaskan jika menjalani hal itu, juga tak cukup ampuh untuk meredam keinginannya.  Bahkan ia mengatakan, bersedia jika harus menyusui tuyul itu nantinya.  Hingga tiga minggu berselang, aku masih bisa bertahan untuk tidak datang ke gunung tersebut.  Tentunya dengan beralasan belum punya waktu luang.  

                                         Baca Juga: Rahasia Surat Al Insyiroh

Namun ketika suatu hari isteriku mengatakan akan datang kesana sendiri jika aku tak segera kesana, akupun tak berdaya menghindar lagi.  Bagaimanpun aku masih sayang padanya.  Aku tak tega, jika ia sendiri yang melakukan hal itu.  Meski dengan hati berat, aku akhirnya berangkat juga ke Gunung tersebut mencari tuyul untuk pesugihan sebagaiman yang diinginkan isteriku.  Aku kesana diantar seorang paranormal yang kudapatkan dari temanku.  Keberangkatanku, dilepas isteriku dengan seualas senyum yang menyiratkan pengharapan besar.  Itulah yang membuatku tak menyurutkan langkah. 
Setelah susah payah menempuh perjalanan, karena harus berganti-ganti angkutan umum, sampailah aku di lokasi.  Tepatnya yakni di sebuah goa yang berada diatas bukit.  Di dalam goa tersebut kami lalu melakukan ritual.  Mula-mula untuk membuka komunikasi dengan makhluk halus penguasa setempat, paranormal yang menyertaiku lantas menghaturkan sesaji yang kami bawa dari rumah dan membakar kemenyan.  Berikutnya mulut mulai komat-kamit membaca mantra.  Tak lebih dari setengah jam, udara di dalam goa sudah berubah lebih dingin, namun dingin terasa lain, bulu kudukku sampai meremang.  Aroma kemenyan yang dibakar, menambah suasana semakin mistis. 

                                       Baca Juga: Pengaruh Besar Ilmu Ghaib dalam Berdagang

Hingga akhirnya di depanku tiba-tiba telah berdiri sesosok tubuh berukuran sangat besar dengan wajah amat menyeramkan.  Sejurus kemudian, paranormal itu berkata kepadaku, bila saatnya untuk menyampaikan keinginan dan membuat perjanjian ghaib.  Singkat cerita dalam kesempatan tersebut, apa yang aku inginkan dikabulkan oleh sosok raksasa itu.  Tapi sebagai gantinya, ia memberikan beberapa persayaratan padaku.  Yakni aku harus merawat dengan baik tuyul yang merupakan anak buahnya, yang akan diikutkan denganku.  Selanjutnya setiap tahun aku diharuskan menggelar selamatan dengan menyembelih kambing kendit di lokasi goa itu.  Dan yang terakhir, isteriku diharuskan bersedia menyusui tuyul tersebut setiap kali habis bertuga.

Syarat yang paling menjadi dilema bagiku yakni isteriku yang diharuskan menyusui tuyul tersebut.  Namun karena sejak semula isteriku telah menyatakan kesediaanya menjalani tugas itu, maka akupun lantas menyanggupi semua syarat itu.  Dan sejak itulah, aku terikat perjanjian ghaib dengan raksasa penguasa goa itu.  Setelah merampungkan ritual perjanjian kamipun bergegas pulang.





Tewas mengenaskan
Lima hari berselang, tuyul yang kubawa pulang dan kupelihara, mulai dapat disuruh bekerja.  Di hari pertama gerilyanya ia berhasil membawa pulang uang sejumlah 2.000.000.  Dan di hari-hari berikutknya, pendapatannya kian melimpah.  Hingga dalam sebulan pertama total uang hasil curiannya mencapai 20 juta lebih.  Agaknya tuyul itu semakin lihai dan mengetahui situasi di sekitar tempat tinggalku, khususnya tentang tempat-tempat penyimpanan uang milik orang lain.  Melihat tumpukan uang sebegitu banyak, isteriku sangat gembira.  Dari hasil tersebut, pertama-tama yang dibelinya adalah perabot rumah tangga yang lumayan mewah.  Dan waktu-waktu berikutnya gantian kebutuhan lain yang dibeli.  Hanya saja, meski sudah berjalan satu tahun, kami sepakat untuk tidak merenovasi rumah.  Itu semata-mata untuk menjaga agar para tetangga tidak curiga.  Sebab, aku sendiri tetap menjalani pekerjaan lamaku, yakni sebagai sopir angkutan umum yang penghasilannya tak seberapa besar.  Jadi kalau sampai bisa membangun rumah apalagi dengan sangat mewah para tetangga pasti langsung kasak-kusuk.
Wajar jika isteriku begitu menikmati hasil tersebut.  Sebab selama itu, dialah yang harus rela untuk menyusui tuyul tersebut, setiap kali pulang dari beroperasi.  Itu sudah menjadi perjanjian ghaibku dengan makhluk halus bertubuh mungil tersebut.  Sementara aku sendiri, jujur saja tak banyak melakukan apa-apa yang berarti setelah ritual dan membawa tuyul itu kerumah.  Hanya saja setahun sekali aku memang pergi ke goa di gunung tersebut untuk menggelar selamatan sebagaimana perjanjian.
Hingga akhirnya, satu sore di tahun ketiga kami memelihara tuyul, kutemukan isteriku terkulai lemas di pembaringan dengan kondisi tubuh yang sangat mengenaskan.  Tubuhnya terutama di sekitar payudara, tampak keriput dan kering.  Sementara nafasnya tersengal-sengal lemah.  Kuatir terjadi apa-apa aku bergegas membawanya ke rumah sakit.  Namun belum baru saja sampai disana, sebelum sempat mendapat perawatan dokter, nyawa isteriku tak tertolong lagi.  Ia menghembuskan nafas terahir saat dibawa ke ruang ICU.  Seketika aku menjerit histeris,.  Ada rasa prihatin ada juga penyesalan yang mendalam.  




Saat pemandian jenazah, sebenarnya banyak pihak keluarga yang menanyakan kematian mendadak isteriku, terutama setelah melihat tubuhnya yang keriput.  Namun sejauh itu, aku hanya bisa mengatakan bila tak tahu sama sekali penyebabnya.  Kukatakan pula, bila isteriku tak pernah mengeluhkan sedang menderita suatu penyakit.  Sebab, memang aku sendiri tak tahu.  Beberapa hari berselang, barulah aku mendapatkan jawaban atas misteri kematian isteriku.  Menurut paranormal yang dulu mengantarku ke Gunung, kematian itu akibat isteriku yang terlalu lama menyusui tuyul.  Sebab katanya, sejatinya yang di hisap sang tuyul bukanlah air susu.  Melainkan darah isteriku.  Akibatnya tubuh isteriku lambat laun keriput lantaran kehabisan darah.

Kini, aku hidup sendiri di usiaku yang telah memasuki 50 tahun, karena bersama isteriku, aku tak dikaruniai anak.  Hidupku pun kembali seperti semula, pas-pasan.  Sementara tuyul pesugihanku kembali ke sarangnya.  Sebenarnya menurut paranormal itu, aku bisa saja memiliki kembali tuyul itu, asal lebih dulu aku harus menikah lagi.  Sebab kalau tidak menikah, siapa yang akan menyusuinya?  Tapi, aku lebih memilih kehidupanku yang sekarang, yang apa adanya.  Semoga pegalaman hidup nan pahit ini bisa menjadi peringatan bagi pembaca akan bahayanya pesugihan.
TERSAKTI

.